Aksi Perdana BPI di SD Asisi Jakarta

Suatu awal yang begitu bermakna bagi kami pencetus gerakan Benih Peduli Indonesia, sehari setelah meluncurkan BPI, kami diberi kesempatan untuk berbagi pengetahuan kepada Klub Sains SD Asisi Jakarta. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga karena aksi perdana ini diadakan di sekolah dimana kedua pencetus BPI ini pernah mengenyam pendidikan dasarnya.

Kesempatan perdana kami untuk mengajar dimulai sebelum peluncuran gerakan BPI ini. Pada saat pembuatan visi dan misi BPI, kami menyetujui untuk secepatnya memulai suatu kegiatannya nyata yaitu berbagi pengetahuan. Hal pertama yang hadir dipikiran kami adalah untuk datang ke SD Asisi menawarkan inisiatif kami. Lalu, Albertus Prawata mendatangi langsung Kepala Sekolah SD Asisi, Ibu Yustina Amira, untuk menyampaikan keinginan kami untuk berbagi. Dari situ kami diminta untuk memberikan presentasi kepada Klub Sains di SD Asisi mengenai pengetahuan lingkungan.

Pengetahuan lingkungan yang kami bagikan kepada murid-murid SD Asisi adalah sebuah metode yang merupakan salah satu solusi pencegahan banjir di Indonesia, yaitu biopori. Ibu Yustina Amira menjelaskan bahwa pemerintah telah banyak menganjurkan sekolah-sekolah di Indonesia untuk menerapgunakan biopori. Lubang resapan biopori merupakan lubang dengan lebar 10-30cm, dalam 80-100cm, dan dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Ke dalam lubang resapan biopori nantinya bisa dimasukan sampah organik dan bisa diambil dan dimanfaatkan menjadi kompos. Biopori ini dikembangkan pertama kali oleh tim biopori dari Institut Pertanian Bogor (http://www.biopori.com/).

Respon murid-murid SD Asisi pun sangat positif. Dengan antusias mereka untuk melontarkan beberapa pertanyaan selama presentasi BPI berlangsung. Salah satu pertanyaan yang sangat menarik diajukan oleh seorang murid. Ia bertanya, “Bagaimana kalau orang-orang akan merusak lubang-lubang biopori yang sudah ada, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja?” Lebih lanjut sang murid meneruskan pertanyaannya dengan berkata, “Bagaimana jika orang-orang sembarangan memasukkan sampah non-organik ke dalam lubang biopori?” Dan ketika seorang anak kelas 4 SD menanyakan hal seperti itu, ini merupakan hal yang sungguh luar biasa. Pertanyaan ini sangat tepat menyentuh beberapa aspek penting yang mencakup area dimana BPI berperan: peningkatan kepedulian lingkungan melalui pendidikan dan pembagian ilmu pengetahuan ke seluruh masyarakat Indonesia.  Hal ini justru harus dilakukan sejak usia dini dan kami sangat bangga memulai gerakan ini dengan mengajar murid-murid Sekolah Dasar di Indonesia.

 

 

This entry was posted in Aksi, BPI, Kegiatan, Liputan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply